Sejarah Kelompok Staf Medis (KSM) Urologi
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Sejarah KSM Urologi RSCM-FKUI
1913-1945

Perkembangan urologi di zaman sebelum kemerdekaan tidak terlepas dari sejarah didirikannya pendidikan kedokteran yang pertama di Indonesia yaitu School Tot Opleiding Van Indische Artsen (STOVIA) pada tahun 1913 oleh pemerintah Belanda. Untuk mendapatkan pengakuan kesetaraan lulusan STOVIA sebagai seorang dokter umum dari Belanda, STOVIA berganti nama menjadi Geneeskundige Hogeschool (GH) pada tahun 1927. Sekolah ini merupakan cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).


Gambar.1 Central Burgerlijke Ziekeninrichting. Saat ini dikenal sebagai RSCM

Prof. Am Coolet yang berasal dari Belanda merupakan ahli urologi pertama yang ada di Indonesia dan kemudian dikukuhkan sebagai guru besar di STOVIA. Pada masa itu, penanganan kasus-kasus urologi seperti batu ginjal dan kelainan saluran kemih masih dilakukan secara operasi terbuka. Penanganan kasus bedah dengan teknik endoskopi masih belum berkembang. Setelah masa kemerdekaan, ahli-ahli bedah asing di STOVIA pada masa itu ditarik kembali ke negaranya.

Tahun 1950-an

Pemerintah Indonesia mengirim Prof. Oetama yang merupakan seorang ahli bedah pada saat itu untuk menjalani pelatihan dalam bidang urologi di Amerika. Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, Prof. Oetama kembali ke Indonesia untuk merintis pengembangan bidang urologi di Jakarta dengan memperkenalkan ilmu baru yang beliau dapatkan yaitu alat sistoskopi dan TURP

TUR prostat mulai diperkenalkan di RSCM oleh Prof. Oetama. TURP jauh lebih banyak dilakukan daripada operasi terbuka. Operasi terbuka hanya dilakukan untuk prostat dengan volume lebih dari 100

Tahun 1960

Prof. Oetama mendirikan Sub Bagian Urologi FKUI / RSCM.

Tahun 1965

Prof Oetama dikukuhkan sebagai Guru Besar FKUI pada tahun 1965. Beliau kemudian aktif memberikan pelatihan urologi di FKUI. Demi mengembangkan keilmuan urologi tersebut, Prof. Oetama mengumpulkan dan memberikan pelatihan kepada ahli-ahli bedah untuk menjadi staf pertama di sub bagian Urologi FKUI/RSCM yang terdiri dari dr. H. Ramli, dr. Proehoeman, Prof. Sadatoen Soerjohardjo, dan dr. Soemarsono Sastrowardojo.


Gambar.2 Prof. Oetama bersama istri, Beliau merupakan ahli urologi pertama di Indonesia dan berperan besar terhadap pengembangan bidang urologi di Indonesia

Beberapa orang staf sub-bagian urologi FKUI/ RSCM dikirim ke luar negeri untuk memperdalam urologi. dr. H Ramli, dr. Prohoeman, dan dr. Soemarsono menempuh pelatihan urologi di Amerika. dr. H. Ramli selanjutnya menjadi staf sub-bagian urologi FKUI/ RSCM sedangkan dr. Prohoeman hijrah ke Malaysia untuk mengembangkan urologi di Malaysia. Setelah menyelesaikan program pendidikan urologi di Amerika, dr. Soemarsono kemudian melanjutkan pelatihan di Belanda. Prof. Sadatoen Soerjohardjo menempuh pelatihan urologi di proyek kapal Hope dan melanjutkan pendidikan urologinya di Belanda. Setelah menyelesaikan pendidikan urologinya di Belanda, beliau menjadi staf sub-bagian urologi FKUI/ RSCM.

Tahun 1969

Prof. Djoko Rahardjo menyelesaikan pendidikan ahli bedahnya di FKUI dibawah bimbingan Prof. Oetama, Prof. Djamaluddin, dan dr. Irawan Santoso. Prof. Djoko Rahardjo yang awalnya mendalami sub bagian bedah toraks di bawah bimbingan dr. Irawan Santoso kemudian diminta oleh Prof. Oetama untuk mendalami bidang urologi karena kemahiran beliau dalam keterampilan bedah. Prof. Djoko Rahardjo menjalani pelatihan urologi selama 1 tahun dibawah bimbingan Prof. Oetama.


Gambar.3 Prof. Djoko Rahardjo, merupakan salah seorang Guru Besar yang juga menjadi Pelopor pengembangan bidang Urologi di Indonesia

Tahun 1970-1972

Prof. Djoko Rahardjo dikirim untuk melanjutkan pendidikan urologi di FU, Berlin, Jerman Barat. Bel Beliau menempuh pelatihan urologi di RS. Westend dan RS. Neukӧllner Kraukenkees, Berlin. Beliau selanjutnya aktif menjadi staf sub-bagian urologi FKUI/ RSCM.

Fritz Kakiailatu, yang merupakan seorang dokter di Angkatan Laut, dikirim oleh Angkatan Laut untuk memperdalam bidang urologi di AZL, Belanda. Beliau mengamalkan ilmu urologinya di RSPAD, dan RSAL, Jakarta. dr. Rochani, dr. Ali Afandi, dan dr. Firdaoessaleh menjalani pelatihan urologi di AZL, Belanda dibawah bimbingan Prof. Udo Jonas setelah sebelumnya menjalani pelatihan urologi di FKUI. dr. Rochani dan dr. Firdaoessaleh diangkat menjadi staf sub-bagian urologi di FKUI/ RSCM.

Prof. Oetama memberikan program pelatihan urologi selama 6 bulan kepada semua dokter yang menjalani program pendidikan ahli bedah di FKUI/ RSCM. Pelatihan ini merupakan cara Prof. Oetama untuk meningkatkan keahlian para ahli bedah dalam penanganan kasus urologi. Beberapa ahli bedah dikirim ke berbagai daerah di Indonesia untuk menjamin penyebaran tenaga ahli bedah sehingga dapat meningkatkan pemerataan tenaga ahli bedah di tanah air. Beberapa ahli bedah tersebut antara lain Prof. Heyder bin Heyder, yang kemudian menjadi perintis bidang ilmu bedah di Semarang, Prof. Kustedjo yang kemudian menjadi perintis ilmu bedah di Bandung, dr. M. Sinaga yang kemudian menjadi Menteri kesehatan saat itu, Prof. Ramlan Mochtar yang kemudian mengembangkan ilmu bedah di Yogyakarta, dan dr. Bendjohan yang mengembangkan ilmu bedah di Malang.

Tahun 1974

Prof. Donker, Prof. Boer, Prof. Mensink, dan Prof. Udo Jonas menetap di Indonesia selama satu tahun dan menjadi professor tamu di Jakarta dan Surabaya. Beliau berjasa membantu pengembangan ilmu urologi di Indonesia salah satunya dengan turut mendukung dibukanya program studi urologi di Jakarta dan Surabaya. Prof. Boer mendidik beberapa ahli urologi dari Indonesia antara lain Prof. Widjoseno Gardjito, Prof. Sunaryo Hardjowijoto, Prof. Doddy M. Soebadi, dan dr. Rudi Juwana. Prof. Mensink melanjutkan tugas Prof. Boer untuk menjadi Professor tamu di Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Prof. Udo Jonas, seorang Professor berkebangsaan Jerman, menjadi Professor tamu dan turut mendidik para ahli urologi di Indonesia selama menjadi ketua di Leiden. Selanjutnya, Beliau pindah ke MAC (Medicine Auchhantoher), dan mendidik beberapa ahli urologi dari Indonesia yang menjalani pendidikan Doktoral yaitu Prof. Akmal Taher , Prof. Ponco Birowo, dan Prof. Harrina E. Rahardjo.

Tahun 1977

Tindakan transplantasi ginjal pertama kali dimulai di FKUI/ RSCM yang dirintis bersama-sama dengan sub-bagian Ginjal dan Hipertensi yang pada saat itu dipimpin oleh Prof. dr. R. P. Sidabutar. Tokoh-tokoh pencangkokan ginjal pertama kali di Indonesia yaitu dr. Irawan Santoso, Prof. Djoko Rahardjo, dr. David Manuputty, dr. Rochani, dan Prof. dr. R. P. Sidabutar serta dibantu oleh Prof. Kazuo Ota, seorang Professor berkebangsaan Jepang dari Tokyo.

Tahun 1980-an

Bidang urologi mengalami kemajuan yang sangat pesat di dunia dimana terjadinya perubahan tren penanganan kasus urologi menggunakan teknik endoskopi. Teknik-teknik pembedahan secara invasif minimal hingga tindakan non-invasif semakin berkembang dalam bidang urologi dan mulai menggantikan teknik pembedahan terbuka dengan morbiditas yang lebih tinggi. Hal ini didukung oleh penemuan beberapa alat baru untuk penanganan batu ginjal dan saluran kemih yaitu URS (Perez Castro, 1981), PCNL (Pieter Alken, 1981) dan ESWL (CH. Chaussy, 1980-1983).

Tahun 1985

Pengobatan menggunakan laser holmium untuk batu atau untuk prostat di Indonesia pertama kali dilakukan dan dipelopori oleh Prof. Djoko Rahardjo.

Teknik bedah mikro untuk kasus-kasus azoospermia mulai dilakukan di RSCM dan tindakan ini dipelopori oleh Prof. Akmal Taher dengan melakukan operasi vasovasostomi atau epididimovasostomi yang memberikan hasil patency rate cukup tinggi.

Tahun 1994

Teknik laparoskopi pertama kali dikerjakan oleh Prof. Rainy Umbas. Beliau saat itu mengerjakan teknik laparoskopi pada kasus diagnostik UDT intra abdominal.

Tahun 1997

Perkembangan urologi di dunia juga diikuti oleh perkembangan urologi di Indonesia.
RSCM mulai penyediakan pelayanan urologi dengan peralatan mutakhir seperti ESWL, PCNL, dan ureteroskopi. Tindakan operasi terbuka untuk kasus batu di RSCM hanya dilakukan untuk batu staghorn dengan volume batu yang besar.

Tahun 2000an

Prof. Chaidir A. Mochtar, salah seorang staf departemen urologi RSCM-FKUI, dikirim ke Belanda untuk menjalani program PhD dan pelatihan teknik laparoskopi pada tahun 2002. Setelah menyelesaikan pelatihannya di Belanda pada tahun 2006, Beliau mulai menerapkan teknik laparoskopik pada beberapa operasi di RSCM.

Tahun 2011 –2020

Teknik Laparoscopic Living Donor Nephrectomy (LLDN) pada trasplantasi ginjal dilakukan di Indonesia untuk pertama kalinya dan diprakarsai oleh Prof. Chaidir A. Mochtar. dr. Irfan Wahyudi, staf departemen urologi RSCM, dikirim untuk mendalami teknik laparoskopi di Jerman pada tahun 2013

Gambar.3 Prof. Djoko Rahardjo, merupakan salah seorang Guru Besar yang juga menjadi Pelopor pengembangan bidang Urologi di Indonesia

Kemajuan pesat di bidang Urologi terutama di pelayanan transplantasi ginjal membuat Kementerian kesehatan mengutus staf-staf di departemen Urologi FKUI-RSCM bersama tim transplantasi RSCM untuk memberikan pelatihan dan bimbingan untuk Pusat pendidikan dan rumah sakit di seluruh Indonesia, dipimpin oleh dr. Arry Rodjani dan dr. Nur Rasyid demi memperluas pelayanan transplantasi ginjal di Indonesia.


Gambar.5 Prosedur operasi transplantasi ginjal yang saat ini terus dikembangkan oleh dr. Arry Rodjani dan dr. Nur Rasyid

Pada tahun 2015, staf departemen Urologi FKUI-RSCM yang terdiri dari Prof. Chaidir A. Mochtar, dr. Arry Rodjani, dr. Nur Rasyid, dan dr. Agus Rizal program mentoring untuk tindakan pembedahan robotik yang dipimpin oleh dr. Pranjal Modi yang berasal dari India di Ahemdabad, India.


Gambar.6 Program mentoring pembedahan robotik yang diikuti staf Departemen Urologi FKUI-RSCM pada tahun 2015

Pada tahun 2019, pelayanan robotik di RSCM mulai dilakukan dengan tindakan biopsi prostat transperineal robotik.